Diganggu Setan, Gagal Karena Perkara Ghaib

Merasa diganggu setan? Lalu gagal? Apa anda pernah gagal? Gagal itu lawan katanya berhasil. Berhasil atau sukses itu artinya bisa mencapai tujuan. Kalau gagal? Ya berarti tidak bisa mencapai tujuan. Gagal bisa disamakan dengan kalah, walau kekalahan tidak selalu identik dengan kegagalan.

Diganggu Setan

Dalam kehidupan, kita pasti akan sering menghadapi masalah. Lalu saat kita hadapi masalah itu, nanti hasilnya ada dua, yang pertama adalah keberhasilan, yang kedua adalah kegagalan. Contoh masalah yang nyata misalnya:

Satu, anda buka usaha, lalu sudah berjalan beberapa lama anda tidak kunjung mendapatkan keuntungan dari usaha yang anda jalankan. Lalu bukannya semakin besar malahan anda kehabisan modal. Karena modal habis, anda juga tidak mau berhutang, maka anda tutup usaha anda. Nah ini artinya gagal dalam menjalankan usaha.

Contoh dua, anda menjalin percintaan dengan pasangan anda. Saat anda sudah ingin menapak ke jenjang yang lebih tinggi, anda tiba tiba ditinggalkan oleh pasangan anda. Ini artinya anda gagal menikah.

Dan masih banyak contoh lainnya lagi.

Terkadang, kita menemui kondisi dimana orang lain, atau bahkan diri kita sendiri cenderung menyalahkan hal hal diluar diri sendiri atas kegagalan yang kita alami.  Terlebih kita malah menyalahkan situasi kondisi yang tidak bisa dirasakan orang orang lain, hanya bisa dialami oleh diri kita. Kita menyalahkan kegagalan kita karena faktor ghaib atau supranatural. Diganggu oleh setan, itu yang kita rasakan. Kondisi seperti ini umum terjadi.

Usaha yang kita buka, lalu kita tutup bangkrut, karena usaha kita dilempar tanah kuburan oleh orang lain. Percintaan yang kandas tiba tiba karena pasangan yang secara mengejutkan meninggalkan kita tanpa alasan. Dan sebagainya. Lalu gimana kita menyikapi kondisi seperti ini?

Yang pertama, Saat kita mengalami kegagalan dan suka menyalahkan sebab lain, itu sudah menunjukan bahwa diri kita itu menolak tanggung jawab. Kadang kita malah juga menyalahkan perkara ghaib yang jadi penyebab kegagalan kita. Ini masih bagian dari kita menolak untuk bertanggung jawab atas kegagalan yang terjadi. Saat kita menolak bertanggung jawab, maka kita sebenarnya juga menolak untuk belajar dan menolak juga untuk memperbaiki diri.

Yang kedua, memang beberapa kejadian itu bisa disebabkan oleh perkara ghaib. Karena ghaib itu nyata. Jika diri anda cukup peka, maka anda bisa melihat mana perihal yang ada ghaibnya, mana perihal yang itu murni sebab-akibat perbuatan manusia. Tentu pandangan yang kedua ini hanya bisa dipahami jika diri anda cukup peka. Jadi latihlah kepekaan itu.

Selain memang melatih kepekaan, anda bisa juga mengamati beberapa kebiasaan yang terjadi. Misalkan kasus yang terjadi adalah seorang perempuan kaya, yang sering menikah, lalu pasangannya yang laki itu pasti meninggal, hingga terjadi tidak hanya dua kali namun sampai empat kali. Nah itu kemungkinan besar karena disebabkan perkara ghaib. Jadi karena terbiasa menikah, lalu setelah menikah terbiasa pula pasangannya meninggal, itu lah yang dimaksud sebagai mengamati kebiasaan.

Atau satu kebiasaan lain, yang tentu juga bisa diamati. Seperti bulu kuduk yang merinding di saat saat tertentu, atau muncul aroma yang tidak biasa. Nah itu sudah menjadi sasmita (petunjuk) bahwa memang ada perkara ghaib yang menyertai. Bahwa mungkin anda diganggu oleh setan, atau hal hal ghaib lainnya.

Pada kondisi yang kedua ini, maka anda akan perlu mengatasi hal-hal tersebut dengan upaya-upaya bathiniah atau ghaib juga. Jika anda memaksakan diri untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan upaya fisik juga tidak apa-apa, toh nanti berhasil atau terulang lagi kegagalan itu jadi urusan anda sendiri.

Upaya-upaya bathiniah yang bisa dilakukan juga ada banyak. Bisa meningkatkan ibadah dan meminta perlindungan dari Tuhan sang pencipta alam semesta, membaca doa doa perlindungan tertentu, hingga minta tolong bantuan mereka yang bisa mengerti perkara-perkara spiritual seperti ini.

Baik itu mengatasi sendiri atau minta bantuan orang lain tentu membawa konsekuensi tersendiri. Yang jelas pekerjaan yang bersifat bathiniah seperti ini tentu memakan waktu. Setidaknya anda harus menyediakan waktu untuk berdoa, menyediakan waktu untuk tirakat, yang itu tentu tidak sebentar.

Selain itu, punya kemampuan untuk memahami perkara ghaib itu juga perlu belajar, yang lagi lagi tentu saja memakan waktu. Yang ini tidak sebentar, bisa bertahun-tahun. Dari belajar itu anda akan mendapatkan pengalaman, dan juga pemahaman-pemahaman yang tidak akan dipunyai oleh mereka yang tidak menyediakan waktu untuk belajar.

Jadi kesimpulan tulisan ini,

  1. Saat anda gagal anda jangan langsung menyalahkan hal-hal diluar diri anda apalagi menyalahkan perkara ghaib, seperti anda disantet, atau diguna-guna.
  2. Jika anda gagal berkali-kali dan setelah anda amati, penyebab kegagalannya itu karena memang andanya yang teledor, atau karena hal-hal diluar nalar seperti orang luar tiba-tiba membatalkan, atau sejenisnya.
  3. Saat anda digagalkan secara ghaib, ya anda atasi juga secara ghaib. Bisa anda atasi sendiri, bisa juga anda minta orang lain yang mengerti permasalahan seperti ini.

Comments

One response to “Diganggu Setan, Gagal Karena Perkara Ghaib”

  1. […] Baca juga tulisan kami perihal gangguan ghaib. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *